Demi Sebuah “Tandatangan” Beasiswa
Fenomena antrian panjang pengajuan beasiswa mahasiswa kampus merah
“....dilakukan dengan kolektif merupakan sesuatu yang mudah dan efisien kenapa harus selalu dipersulit, hidup ini sudah sulit tetapi kenapa masih juga dipersulit,...”
![]() |
| Antian mahasiswa di depan kantor wakil dekan III untuk mendapatkan tandatangan, Senin (20/2) |
Opini-Minggu-minggu ini merupakan jadwal sibuk bagi jajaran dekanat, khususnya bagi wakil dekan III bidang kemahasiswaan. Kesibukan ini terkait pengajuan permohonan beasiswa PPA maupun BBM tahun 2012. Terlihat ruangan kantor wakil dekan III, Rr Terry Irenewati, M. Hum hari senin (20/2) dan hari-hari sebelumnya tak pernah sepi dari keberadaan mahasiswa dan kantor pun terkesan terlihat bekerja aktif sebagai pelayan publik mahasiswa yang “baik”.
Keberadaan wakil dekan III pun sentak menjadi sorotan publik, dan tentunya meenjadi orang penting “dadakan” yang didambakan dan dinanti-nanti kedatangan dan keberadaan di singgasananya. Puluhan mahasiswa pun tak rela sedetikpun melewatkan dan sekejap meninggalkannya. Terkesan sibuk ataupun sok sibuk, ya begitulah rutinitas minggu ini kerja wakil dekan kita. Kata “nglembur” sampai larut malam di kampus pun dilakukannya, bukan mengada-ada dan kenyataan seperti itu. Ambisiusnya pun terlarut dalam semangat perubahan pengabdianya untuk mahasiswa.
Sadar atau tidak sadar, apa yang dilakukan oleh sang pengabdi pelayan mahasiswa untuk meningkatkan kinerja pelayanan yang maksimal yang seperti ia harapkan itu pada kenyataan yang terjadi adalah publik berbicara lain, pelayanan yang ditawarkanpun seakan-akan terlalu memaksakan kehendak emosional sesaat, dan akhirnya mahasiswalah yang dirugikan.
Tak heran pula mahasiswa melantangkan ucapan dan ekspresi kesal akibat mondar-mandir, bolak-balik, naik-turun karena dampak langsung terhadap kebijakan sistem ini yang dinilai ribet dan terkesan menyusahkan mahasiswa. Kebijakan penghapusan kolektifitas penandatanganan pengajuan permohonan beasiswa kepada wakil dekan berdampak langsung pada mahasiswa yaitu waktu. Waktu sangat jelas terbung hanya untuk mengantri, padahal semua itu apabila dilakukan dengan kolektif merupakan sesuatu yang mudah dan efisien kenapa harus selalu dipersulit, hidup ini sudah sulit tetapi kenapa masih juga dipersulit ungkapan kawan-kawan mahasiswa mengungkapkan kekesalannya.
Perjuangan dan pengorbanan pastinya tidak akan semuanya berbanding lurus pada hasilnya kelak. Beasiswa yang diperebutkan oleh ratusan dan bahkan ribuan mahasiswa tidak dapat mencakupi seluruhnya, bantuan itu hanya mencakup 122 bantuan PPA dan 122 bantuan BBM saja yang tersedia.
Bukan hanya persaingan kuota bantuan yang jauh sedikit dibanding dengan jumlah peminatnya, namun momok lain yang masih terkendala selain penentuan yang pantas menerimannya adalah perjuangan mahasiswa dibalik semuanya itu. Ada mahasiswa yang rela jauh-jauh balik pulang kampung, mondar-mandir mengurusi surat-surat persyaratan kesana-kemari, dan paling melelahan adalah mencari tandatangan, yaitu baik tandatangan orang tua, mahasiswa yang rumahnya jauh pun harus tidak harus terpaksa meninggalkan kampus pulang kampung, tandatangan selanjutnya adalah tandatangan pembimbing akademik yang juga tak semudah dan tentunya tak sesulit dengan orangtua yaitu lantaran karena kondisi dimana belum lagi jadwal antara mahasiswa dan dosen pembimbing akademik yang berbeda menyebabkan adanya “miss” terus belum lagi tandatangan dari ketua jurusan yang jadwalnya pun tidak selalu bisa standby di kantor jurusan masing-masing pula, dan yang menyusahkannya lagi seperti yang disinggung diatas adalah berubahnya sistem kebijakan permohonan pengajuan beasiswa mahasiswa tahun 2012 yaitu terkait penghapusan tandatangan kolektif, sehingga mahasiswa harus lebih panjang lagi pengorbanannya hanya demi sebuah tandatangan yang dinilai sakral, tandatangan keramat yang bisa menentukan permohonan itu bisa diterima atau tidak.
Kembali pada persepsi masing-masing terhadap kebijakan ini, namun pada kenyataannya jika sesuatu itu mudah kenapa harus dipersulit, semoga bisa menjadi perhatian bersama, janganlah disusahkan hanya karena demi sebuah “tandatangan” Beasiswa. [ipung/Dept. MJ]

